Thursday, December 20, 2012

My Friend is My Family, Part of My Live



Keluarga baruku di PT. Hexing Technology. Memang sedikit sekali personil perempuannya jadi kalau ga salah akur-akur bisa ga punya temen. Hehehe..

Take picture perpisahan dengan mba Nurul Quraniatin (pose duduk; kerudung warna biru)

Foto diambil "nyuri" dari facebooknya Mba Melan :))

----

Beda lagi dengan keluarga lamaku di PT. Chang Shin Indonesia, satu tim kami banyak sekali perempuannya padahal itu satu departemen. Hehe. Kadang sangat merindukan mereka, tapi entahlah apa mereka juga merasakan hal sama yah? (Lebay dot com). Namanya juga hidup mesti berlanjut, dimanapun kita bekerja teman akan tetaplah menjadi teman. Rindu sekali suasana seperti ini


Take picture saat buka puasa bersama di rumah Pak Yono (manager SM&S Dept), meskipun ga lengkap personilnya tetap mereka tak tergantikan ^^

----
Beda lagi sama teman-teman yang ini, sahabat terbaik saat kuliah




Waaaah, mereka ga ada duanya, ga ada tiganya, ga ada gantinya. Mereka teman-teman seperjuanganku. Hahaha. Seperjuangan OSPEK, seperjuangan membuat laporan dari semester 1-6, seperjuangan kuliah dan mengulang ( wkwkwk), seperjuangan PKL, seperjuangan organisasi, seperjuangan seminar tugas riset I, kelayakan dan sidang kelulusan, seperjuangan yudisium, seminar poster dan akhirnya kami merasakan kembali duduk di Gedung Prof. Soedarto. Meskipun kami tidak lulus bersamaan, tetapi kami melewati jalan yang sama. Kami tidak mengalami situasi yang sama tapi kami melalui fase yang sama. Alhamdulillah, bahagianya mengenal mereka.

---
Emang bener setiap dari mereka itu unik, dan tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya, karena mereka adalah pribadi mereka.
Setiap dari mereka tidak bisa digantikan satu dengan yang lainnya, karena mereka adalah bagian berbeda yang mengisi tempat berbeda untuk melengkapi kehidupanku.
Setiap dari mereka akan punya kenangan masing-masing denganku.
Alhamdulillah Allah telah mempertemukanku dengan mereka, dan aku yakin ini bukanlah suatu kebetulan belaka. ^^


Alur Impor Barang Part I

Pengalaman handle impor cukup menjadi tantangan tersendiri, tapi amat menyenangkan.
Kenapa saya bilang tantangan? karena ini benar-benar pengalaman pertama saya kerja di bidang impor, berhubungan dengan banyak pihak; bea cukai (nama kerennya customs, padahal ga ada keren-kerennya deh ah), forwader (perpanjangan tangan atau agen), shipper (alias penjual atau eksportir). Tantangannya dimana, ya jelas lah kalau udah berhubungan sama beacukai, berhubungan pula sama regulasi, kalau ada pelanggaran hubungannya sama hukum. (sereemm!). Lalu kenapa saya bilang menyenangkan; karena saya bisa ketemu banyak orang, bekerjasama dengan banyak orang, bukan hanya dengan orang Indonesia, tetapi juga dengan eksportir yang dalam hal ini "mother company" kami yang ada di China sono.

Pertamanya ngeblaaank bener masalah ekspor-impor ini. Tapi syukurlah Mba Vina (yang awalnya pegang impor) telaten banget ngajarin dan jelasin alur-alur impor dan prosedur kalau kita mau melakukan impor. Yang kedua Wendy, ini cina ga kalah telatennya ngajarin mulai dari nol sampe sekarang sudah sekitar 5 bulan kerja.

Impor; definisi lagi sekolah itu kan mengirimkan barang dari luar negeri ke dalam negeri. Gitu thok. Ternyata, ewww, ga sederhana gitu.

Jadi, sebelum kita akan melakukan impor, shipper akan mengirimkan kita draft dokumen. Seperti sales contract, packing list, invoice, insurance, form E, dan B/L.
1. Sales contract adalah dokumen perjanjian jual beli yang dikeluarkan oleh shipper.
2. Packing list adalah daftar rincian barang beserta berat kotor, berat bersih, volume barang dan quantity.
3. Invoice adalah list harga barang yang akan diimpor
4. Insurance adalah asuransi yang diberikan, sehingga bila barang rusak dapat dikenakan claim
5. Form E. nah ini dia document yang asing sekali ditelinga saya. form E ini digunakan agar barang yang diimpor tidak dikenakan biaya masuk, setidaknya jika terkena biaya masuk jumlahnya tidak besar. namun jangan salah juga ada beberapa jenis barang yang justru bila dimasukan ke dalam form E justru terkena biaya masuk yang lebih besar (contoh jika tidak dimasukan kedalam form E terkena 15% namun bila dimasukan terkena bea masuk 20%). Contoh barang ini ada Card, small plastic bag, big plastic bag dan mungkin masih banyak contohnya yang lain. form E ini berisi nama pengirim, nama penerima dan lokasi penyerahan barang, tanggal keberangkatan ekspedisi disingkat ETD (Estimate of Time Departed), nama kapal yang akan digunakan, port keberangkatan dan port kedatangan, nomor form E, jenis barang yang akan dikirim beserta kuantiti dan HS Code tiap-tiap barang, nomor invoice dan tanggal invoice, juga ada harga barang yang telah ditambahkan dengan asuransi. HS code ini berbeda-beda untuk setiap barang dan kita wajib melakukan pengecekan HS code di website beacukai http://www.insw.go.id/ . jangan sampai salah mencantumkan HS code, bisa kena denda dengan harga yang bervariasi (capek deeehhh). jika sedang apes, shipment / pengiriman kita terkena random checking dan ternyata kita salah mencantumkan HS code bukan hanya denda dan re-impor, ijin impor perusahaan bisa dicabut lho.
6. B/L atau bill of lading adalah surat tanda terima barang yang telah dimuat oleh kapal. Isinya hampir sama dengan form E hanya saja lebih ringkas, lebih mirip dengan packing list.

sebelum kapal sampai port, kita harus jeli sekali memeriksa semua dokumen itu. Memastikan antar dokumen yang satu dengan dokumen yang lain konsisten. jika tidak, heeemmm jangan salah apa yanga akan dilakukan beacukai (denda, delay response dan masih banyak hal lain).

Wednesday, December 19, 2012

Perubahan API-P Permendag No 27 Revisi menjadi Permendag No 59

Perubahan API-P (Angka Pengenal Importir-Produsen)  ini sontak membuat perusahaan saya pusing tujuh keliling. karena baru saja 17 September kami mengubah API-P karena adanya perubahan No NPWP perusahaan, ada peraturan baru yang akan mulai efektif digunakan awal Januari 2013 dan berlaku sejak 21 September 2012. Hanya selisih 4 hari dari perubahan API-P kami.
Ketika kita akan mengubah API-P, maka secara otomatis dokumen lain seperti NPIK (Nomor Pengenal Importir Kepabeanan) dan NIK (Nomor Induk Kepabeanan) pun akan berubah. Dan kami hanya memiliki sedikit sekali waktu untuk melakukan proses tersebuut. Semoga saja aktivitas impor kami tidak terganggu, karena minimnya informasi yang diberikan oleh BKPM kepada para importir.
http://bctjemas.beacukai.go.id/index.php/media-center/182-sosialisasi-perubahan-angka-pengenal-impor-api-dan-registrasi-kepabeanan